enimpost.com, –Jika kita kerap membaca unggahan di media sosial tentang betapa sulitnya mahasiswa menemui dosen pembimbing, maka dinamika tersebut sama sekali tidak berlaku dalam prinsip yang saya pegang.
Bagi seorang pendidik, sperti saya Dr.H.Akwam, M.Pd.I yang saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah YPI Lahat] membimbing tugas akhir—baik Skripsi untuk jenjang S1, Tesis untuk S2, maupun Disertasi untuk S3 bukan sekadar kewajiban formal yang diamanatkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen. Lebih dari itu, bimbingan adalah wujud komitmen moril. Bahkan termuat dalam Tridarma Perguruan Tinggi.
Oleh karena itu, saya sangat menyayangkan jika masih sering mendengar keluhan mahasiswa yang merasa dipersulit atau dihalangi langkahnya hanya untuk sekadar bertemu dosen pembimbing (dosbing). Bagi saya, membimbing mahasiswa adalah tugas yang mulia. Jika ditinjau dari kacamata agama, ini adalah bagian dari amal jariyah yang tak akan terputus pahalanya, yakni menyebarkan dan membagikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan bersama.

Menemukan “Jejak Pemikiran” dalam Karya Mahasiswa
Semangat ini makin terasa ketika saya membaca proposal skripsi milik mahasiswa STIT YPI Lahat, Ahmad Rifki Hakim, yang berjudul “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Film Biografi Buya Hamka Vol. 1”. Menurut saya, gagasan ini sangat luar biasa. Seorang mahasiswa mampu menangkap pesan mendalam dari sebuah film inspiratif, lalu mentransformasikannya menjadi sebuah karya ilmiah yang sistematis. Menariknya, gagasan ini mengingatkan saya pada disertasi yang dulu saya susun, yaitu: “Relevansi Pendidikan Karakter Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dengan Pendidikan di Indonesia”.
Ada benang merah yang kuat di sini. Baik film biografi maupun Tafsir Al-Azhar sama-sama mengusung sosok ulama dan pahlawan nasional terkemuka Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama yang karya dan pemikirannya tidak hanya menjadi rujukan umat Islam di Indonesia, tetapi juga menggema hingga ke Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, bahkan Eropa. Sosok terkenal itu adalah Buya Hamka.

Membuka Ruang, Mempermudah Jalan
Melihat antusiasme mahasiswa yang mengkaji pemikiran besar tersebut, sangat tidak bijak jika semangat mereka harus terhenti oleh urusan birokrasi bimbingan yang kaku.
Oleh karena itu, saya tidak pernah membatasi tempat dan waktu bimbingan. Selama ada kesepakatan dan komitmen bersama, proses diskusi ilmiah harus tetap berjalan.
Ketika mahasiswa kesulitan menemui saya di kampus karena keterbatasan waktu, kami biasa mengalihkan ruang diskusi ke tempat lain. Kadang di ruang kelas saat jam senggang, di saung diskusi, di rumah, hingga di kafe sambil menikmati secangkir kopi dan kudapan. Di mana pun tempatnya, selama suasana terasa nyaman dan kondusif, ruang belajar tidak boleh tersekat oleh dinding-dinding formalitas.
Memfasilitasi Penuntut Ilmu
Sikap ini berlandaskan pada pemahaman mendalam akan keutamaan menuntut dan membagikan ilmu pengetahuan. Allah SWT telah berfirman:
” … Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat … ” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah SAW juga bersabda tentang kemuliaan para penuntut ilmu yang artinya:
”Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah (fisabilillah) hingga ia kembali.” (HR. Tirmidzi)
Mengingat betapa mulianya derajat para penuntut ilmu di mata Allah dan Rasul-Nya, tugas kita sebagai dosen adalah melayani, membimbing, dan mempermudah jalan mereka menuju kelulusan—bukan malah menjadi penghambat cita-cita mereka.(Dr H Akwam)






