enimpost.com,PALEMBANG – Penguatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Selatan mulai dimatangkan. Yayasan Senyum Jiwa Kita Serasan (SJAS) yang menaungi sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Muara Enim turut ambil bagian dalam rapat konsolidasi bersama kasatpel, mitra, dan yayasan se-Sumsel di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Sabtu (28/2/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, yang menegaskan komitmen penuh pemerintah provinsi dalam menyukseskan program nasional tersebut. Sementara itu, arah kebijakan dan strategi implementasi MBG dipaparkan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, sebagai narasumber utama.
Konsolidasi ini menjadi langkah penting untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat koordinasi lintas pemangku kepentingan. Yayasan SJAS hadir sebagai mitra pelaksana yang selama ini terlibat dalam penyediaan layanan pemenuhan gizi bagi masyarakat, khususnya pelajar dan kelompok rentan di Muara Enim.
Dalam sambutannya, Herman Deru menilai kehadiran MBG selaras dengan program prioritas Pemprov Sumsel di sektor kesehatan. Menurut dia, intervensi gizi yang terstruktur terbukti berkontribusi terhadap penurunan angka stunting di daerah.
“Sumsel menjadi provinsi dengan penurunan stunting terbaik. Di penghujung tahun, kita bahkan diundang khusus oleh Kementerian Kesehatan karena berbagai upaya yang kita lakukan berhasil. Sumsel kini menjadi provinsi dengan prevalensi stunting nomor dua terkecil setelah Jawa Barat,” ujarnya.
Capaian tersebut, lanjutnya, menjadi modal penting untuk memastikan program MBG berjalan efektif dan tepat sasaran. Pemprov Sumsel juga mendorong seluruh kabupaten/kota untuk menyiapkan ekosistem pendukung, mulai dari infrastruktur, data penerima manfaat, hingga pola distribusi.
Di sisi lain, Sony Sonjaya menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak bisa berjalan sendiri. Program ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, mitra pelaksana, hingga partisipasi masyarakat.
Menurut dia, MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memiliki efek ganda terhadap perekonomian daerah. Keterlibatan petani, peternak, serta pelaku UMKM sebagai pemasok bahan pangan diyakini mampu menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat lokal.
“Program ini akan menggerakkan ekonomi masyarakat karena rantai pasoknya berasal dari potensi daerah. Jadi, dampaknya bukan hanya pada kesehatan, tetapi juga kesejahteraan,” jelasnya.
Bagi Yayasan SJAS, forum konsolidasi ini menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas layanan SPPG yang berada di bawah naungannya. Melalui penguatan koordinasi dan pemahaman terhadap kebijakan nasional, yayasan menargetkan penyediaan asupan gizi yang lebih optimal dan berkelanjutan bagi penerima manfaat di Muara Enim.
Rapat konsolidasi tersebut juga diisi dengan sesi diskusi teknis terkait standar operasional, pengawasan mutu makanan, hingga skema kemitraan dengan pelaku usaha lokal. Seluruh peserta diharapkan mampu menerjemahkan kebijakan MBG ke dalam implementasi yang terukur di lapangan.
Dengan konsolidasi ini, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Sumatera Selatan diharapkan semakin terintegrasi, tidak hanya untuk menekan angka stunting, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pangan lokal.






