enimpost.com,MUARAENIM – Di tengah derasnya arus modernisasi, Paguyuban Kesenian Reog Singo Mudo Bantar Angin membuktikan eksistensinya sebagai salah satu penjaga warisan budaya Jawa di Kabupaten Muara Enim. Memasuki usia ke-75 tahun, kelompok seni yang bermarkas di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Lawang Kidul, itu kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan kesenian tradisional dengan turut memeriahkan peringatan HUT ke-100 Desa Tegal Rejo.
Perayaan hari jadi Reog Singo Mudo Bantar Angin digelar di Balai Adat Guno Mulyo, Sabtu (27/6/2026), dan dihadiri Camat Lawang Kidul Zulchaidir Sidik, Kepala Desa Tegal Rejo Teguh Priyono, Sekretaris Desa Inka Pratiwi, mantan Kepala Desa Tegal Rejo periode 2013–2019 Tedi Harsoyo, Ketua BPD H. Maryanto AD beserta anggota, perangkat desa, Linmas, Karang Taruna, para sesepuh Reog, hingga perwakilan paguyuban seni dari berbagai daerah.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan atraktif para penari Reog yang langsung memukau para tamu undangan. Atraksi tarian Merak yang menjadi bagian dari pertunjukan Reog berhasil menyedot perhatian penonton dan menjadi pembuka perayaan ulang tahun ke-75 paguyuban tersebut.
Di bawah kepemimpinan Hendri Susilo, Reog Singo Mudo Bantar Angin terus mempertahankan eksistensinya sebagai kelompok seni yang aktif mengisi berbagai kegiatan budaya maupun agenda pemerintahan desa. Selama puluhan tahun, paguyuban ini konsisten menjadi bagian dari setiap perayaan penting di Desa Tegal Rejo sebagai bentuk komitmen menjaga identitas budaya masyarakat.
Prosesi syukuran ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Camat Lawang Kidul yang kemudian diserahkan kepada Ketua Paguyuban Reog Singo Mudo Bantar Angin, Hendri Susilo. Momen tersebut dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang paguyuban yang telah memasuki usia tiga perempat abad.
Mewakili pengurus, Hendra Irawan menyampaikan rasa syukur atas dukungan Pemerintah Desa Tegal Rejo yang selama ini terus memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Menurutnya, keberlangsungan sebuah kesenian tradisional tidak hanya bergantung pada para pelaku seni, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah dan masyarakat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Kami mengajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan seni tradisional. Reog bukan sekadar hiburan, tetapi warisan budaya yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, pengurus juga membacakan sejarah berdirinya Reog Singo Mudo Bantar Angin sebagai upaya mengenalkan perjalanan panjang paguyuban kepada masyarakat, khususnya generasi muda agar memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Suasana semakin meriah ketika salah seorang penari Merak mengajak Camat Lawang Kidul Zulchaidir Sidik naik ke atas kepala Dadak Merak, ikon utama pertunjukan Reog. Aksi tersebut disambut tepuk tangan meriah dari ratusan penonton yang memadati Balai Adat Guno Mulyo.
Camat Lawang Kidul Zulchaidir Sidik mengaku terharu dapat menjadi bagian dari peringatan ulang tahun ke-75 Reog Singo Mudo Bantar Angin. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan seniman yang selama ini konsisten menjaga kelestarian budaya Jawa di Kabupaten Muara Enim.
Menurutnya, Reog Singo Mudo Bantar Angin telah mencatatkan berbagai prestasi, baik di tingkat Provinsi Sumatera Selatan maupun nasional. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tetap mampu berkembang dan bersaing apabila dikelola secara serius.
“Usia 75 tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak mudah. Pemerintah Kecamatan Lawang Kidul mengapresiasi dedikasi seluruh pengurus dan berharap Reog Singo Mudo Bantar Angin terus melahirkan prestasi sekaligus menjadi wadah regenerasi bagi lahirnya seniman-seniman muda yang mencintai budaya bangsa,” kata Zulchaidir.
Perayaan ulang tahun ke-75 Reog Singo Mudo Bantar Angin menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang berkat semangat gotong royong, regenerasi, dan dukungan masyarakat. Di usia yang semakin matang, paguyuban ini diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian budaya Jawa di Kabupaten Muara Enim.












