Penulis : Abduh, S.Pd.
SDN 3 Benakat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
Pendahuluan: Menjawab Tantangan Bahasa Inggris SD 2027 dari Desa
Pemerintah secara resmi telah menetapkan kebijakan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib di jenjang Sekolah Dasar (SD) mulai Tahun Ajaran 2027/2028. Kebijakan nasional ini difokuskan bagi siswa mulai kelas 3 hingga kelas 6 SD. Apabila dicermati, muara tantangan kebijakan ini bukan pada ketersediaan materi ajar ataupun administrasi pembelajaran, sebab pemerintah telah menyiapkan buku teks utama My Next Words dan perangkat kurikulum secara lengkap. Beban nyata di lapangan justru bersumber dari kondisi psikologis dan kognitif siswa sekolah dasar, di mana Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang benar-benar baru dan sebelumnya tidak pernah dipelajari, khususnya bagi siswa sekolah dasar di wilayah pedesaan atau daerah.
Ketiadaan paparan awal bahasa asing di lingkungan keluarga dan masyarakat pedesaan membuat siswa sekolah dasar di daerah mengalami hambatan adaptasi kognitif. Di sisi lain, karakteristik siswa sekolah dasar yang berada pada tahap berpikir konkret dan memiliki kecenderungan ingatan jangka pendek (short-term memory) menuntut strategi pembelajaran yang adaptif. Guru sekolah dasar dituntut berinovasi agar pengenalan bahasa asing baru ini tidak memicu kecemasan linguistik, melainkan mampu mengendapkan kosakata target ke dalam memori jangka panjang (long-term memory) siswa secara menyenangkan dan bermakna. Salah satu jembatan pedagogis yang efektif untuk mengatasi hambatan retensi memori ini adalah mengintegrasikan bahasa ibu (mother tongue) sebagai perancah kognitif (cognitive scaffolding) dalam penguasaan bahasa kedua.
Secara psikolinguistik, bahasa ibu yang diperoleh siswa sekolah dasar sejak lahir memainkan peran fundamental dalam pembentukan konsep berpikir dan pemahaman awal terhadap lingkungan sekitarnya. Penggunaan bahasa ibu dalam instruksi kelas tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep secara mendalam, tetapi juga menumbuhkan motivasi belajar, memudahkan komunikasi interaktif antarguru dan siswa, serta memperkuat identitas budaya peserta didik. Menolak kehadiran bahasa ibu di kelas bahasa asing berisiko memicu subtractive bilingualism, yaitu penurunan kompetensi bahasa pertama siswa akibat dominasi bahasa kedua. Sebaliknya, pendekatan multibahasa aditif terbukti mempercepat penguasaan kosakata target melalui transfer pengetahuan lintas bahasa yang berlangsung alami pada pikiran anak. Di Kabupaten Muara Enim, khususnya di SDN 3 Benakat, bahasa Benakat atau bahasa Melayu Enim dialek E pepet merupakan bahasa daerah yang aktif digunakan siswa sekolah dasar dalam interaksi sehari-hari. Realitas sosiolinguistik inilah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan inovatif berupa program JAMAN BINGEN (Jago Mandiri Bahasa Inggris-Enim).
Program JAMAN BINGEN diimplementasikan sebagai langkah nyata penulis untuk mendobrak keterbatasan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kelas lima di SDN 3 Benakat. Istilah Bingen yang dalam bahasa daerah Sumatra Selatan merujuk pada tradisi masa lalu direvitalisasi menjadi pendekatan pedagogis modern yang menghargai kearifan lokal. Inovasi ini memodifikasi media kartu gambar (flashcard) konvensional menjadi kartu kosakata bilingual berbasis bahasa ibu yang menyelaraskan bahasa daerah Benakat/Enim dengan bahasa Inggris. Selain itu, guna mentransformasi pengetahuan pasif menjadi kemampuan aktif komunikatif, penulis mengintegrasikan metode bermain peran (role play) yang disesuaikan dengan Unit 1 Buku Siswa My Next Words Grade 5. Melalui sinergi media visual kontekstual dan metode interaktif ini, pembelajaran bahasa Inggris di SDN 3 Benakat ditransformasi menjadi lingkungan belajar yang berpusat pada siswa sekolah dasar, menyenangkan, serta merangsang kemandirian berpikir siswa.
Menebar Kartu Bingen: Ketika Bahasa Ibu Menjadi Jembatan Bahasa Asing
Penggunaan media kartu gambar (flashcard) dalam pengajaran bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar telah lama diakui efektivitasnya karena memberikan visualisasi konkret terhadap kata-kata abstrak. Kendati demikian, kartu gambar komersial di pasaran umumnya bersifat monolingual atau berpadanan bahasa Indonesia, sehingga kurang relevan dengan skema kognitif siswa sekolah dasar di daerah yang bertutur bahasa daerah. Modifikasi kartu gambar JAMAN BINGEN dirancang dengan menyajikan gambar objek menarik dan ejaan bahasa Inggris di sisi depan, sedangkan sisi belakang mencantumkan padanan kata dalam bahasa Benakat/Enim. Desain dua sisi ini menciptakan jalur asosiasi langsung antara bentuk visual objek, kosakata target (L2), dan sistem bahasa ibu (L1) yang telah mapan di dalam otak siswa sekolah dasar. Hal ini meminimalkan beban kognitif siswa dalam menerjemahkan makna secara bertahap dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, lalu ke bahasa daerah mereka.
Media JAMAN BINGEN juga menerapkan prinsip gamifikasi untuk mengoptimalkan retensi memori siswa sekolah dasar. Guru dapat merancang beragam permainan interaktif seperti tebak cepat gambar (flash), mencocokkan kartu (matching activity), permainan memori tertutup, hingga membaca bibir tanpa suara (lip reading). Variasi permainan ini sangat krusial untuk merespons karakteristik siswa sekolah dasar yang memiliki rentang konsentrasi pendek. Dengan memanipulasi kartu secara fisik dalam kelompok kecil, siswa sekolah dasar mempraktikkan pelafalan dan memverifikasi arti kata tanpa merasa tertekan oleh hafalan mati. Penggunaan bahasa ibu pada sisi belakang kartu juga berfungsi sebagai perancah psikologis yang meningkatkan rasa percaya diri siswa sekolah dasar, karena bahasa lokal mereka diakui dan diintegrasikan secara menghormati dalam kurikulum formal.
Dari Juadah hingga Delicious Bakso: Mengaitkan Kosakata dengan Lidah Siswa
Implementasi program JAMAN BINGEN diselaraskan secara ketat dengan lingkup materi pokok Unit 1 Buku Siswa My Next Words Grade 5 yang berjudul What delicious bakso!. Berdasarkan Kurikulum Merdeka, tujuan pembelajaran yang ditargetkan adalah kemampuan siswa sekolah dasar mengidentifikasi rasa makanan dan minuman, menyebutkan rasa tersebut, serta menyusun kalimat sederhana untuk mengekspresikan cita rasa dalam bahasa Inggris. Fokus bahasa meliputi kosakata rasa dasar seperti manis (sweet), pahit (bitter), asin (salty), asam (sour), dan lezat (delicious). Penulis melakukan kontekstualisasi lokal dengan memetakan kosakata rasa dalam buku teks ke dalam padanan bahasa Benakat/Enim beserta objek kuliner lokal yang dikenal luas oleh siswa sekolah dasar di SDN 3 Benakat.
Proses penyelarasan kosakata tersebut diwujudkan melalui narasi konseptual yang menghubungkan istilah bahasa Inggris, terjemahan bahasa Indonesia, padanan bahasa daerah Enim, dan contoh kuliner lokal. Untuk kata sweet yang berarti manis, dipadankan dengan istilah daerah manes melalui contoh penganan khas juadah dan gulo puan. Kosakata sour yang berarti asam diselaraskan dengan kata daerah asam atau masam, yang direpresentasikan oleh jeruk nipis dan mangga muda. Kata salty yang berarti asin dipadankan dengan kata daerah asin, dengan contoh kontekstual berupa ikan asin kering yang oleh masyarakat Benakat dikenal sebagai balur. Sementara itu, kosakata bitter yang berarti pahit dipadankan dengan istilah daerah pait, yang diwakili oleh pare atau gendule serta kopi hitam. Adapun ekspresi delicious yang berarti lezat dipadankan dengan ungkapan lokal lemak atau lemak nian, yang biasa diucapkan siswa sekolah dasar saat mengagumi rasa makanan seperti bakso, pempek, dan lemang.
Penyelarasan ini membantu siswa sekolah dasar menyelesaikan latihan mandiri dalam buku paket secara percaya diri (Jago Mandiri), seperti kegiatan mencocokkan rasa (Listen and match) pada halaman 13, latihan menulis deskripsi rasa (Look and Write) pada halaman 7-8, serta pengisian tabel nama makanan dan rasanya pada halaman 19. Melalui kartu JAMAN BINGEN, siswa sekolah dasar tidak lagi menghafal bentuk tulisan kata asing secara terisolasi, melainkan mengaitkannya dengan memori sensorik rasa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Laris Manis Warung Bahasa: Menghidupkan Percakapan Tanpa Takut Salah
Penguasaan kosakata melalui media visual perlu ditindaklanjuti dengan wadah produksi lisan aktif. Oleh karena itu, penulis menerapkan metode bermain peran (role play) secara terstruktur pada Unit 1 setelah siswa sekolah dasar menguasai kosakata dasar rasa melalui media kartu. Metode bermain peran dipilih karena mampu menciptakan simulasi komunikasi dunia nyata yang interaktif, menantang imajinasi, meningkatkan kelancaran berbicara, serta memperkuat retensi memori melalui pengalaman langsung (experiential learning).
Penerapan bermain peran di SDN 3 Benakat mengadaptasi enam tahapan流域odologis pembelajaran komunikatif. Tahap pertama adalah menetapkan materi ajar dan visual pendukung menggunakan ilustrasi buku paket dan kartu JAMAN BINGEN. Tahap kedua adalah memilih situasi konkret, seperti latar warung bakso lokal atau kantin sekolah. Tahap ketiga adalah mengajarkan dialog kunci dan kosakata esensial, seperti pola tanya jawab “How does the ice cream taste?” dan “It tastes sweet”. Tahap keempat adalah memandu siswa sekolah dasar berlatih berpasangan dalam kelompok kecil sebagai penjual (seller) dan pembeli (customer). Tahap kelima adalah memberikan kebebasan bagi siswa sekolah dasar untuk memodifikasi dialog dengan memasukkan menu lokal seperti balur atau gulo puan. Tahap keenam adalah evaluasi dan refleksi melalui unjuk kerja langsung untuk mengukur kelancaran serta memberikan umpan balik konstruktif.
Pelaksanaan bermain peran menjadikan suasana kelas di SDN 3 Benakat dinamis dan hidup. Siswa sekolah dasar yang semula ragu-ragu berbicara bahasa Inggris mulai menunjukkan keberanian berkat dukungan teman sejawat dan penggunaan gestur tubuh. Dengan memerankan tokoh lain, kecemasan linguistik siswa sekolah dasar berkurang secara signifikan. Metode ini tidak hanya mengasah ketepatan pelafalan (pronunciation) dan struktur kalimat sederhana, tetapi juga melatih kelancaran, volume suara, kontak mata, dan kerja sama kelompok. Siswa sekolah dasar mampu menguasai pola kalimat tanya jawab rasa secara spontan tanpa beban hafalan rumus tata bahasa.
Menjinakkan Keriuhan Kelas: Catatan Evaluasi dan Solusi
Penerapan program JAMAN BINGEN di SDN 3 Benakat memberikan dampak positif terhadap penguasaan kosakata dan rasa percaya diri siswa sekolah dasar. Integrasi bahasa ibu sebagai perancah instruksional meningkatkan kecepatan siswa sekolah dasar dalam mengenali dan mengucapkan kata-kata baru. Kemampuan menulis siswa sekolah dasar pada lembar kerja buku paket turut meningkat karena memiliki representasi visual dan semantik yang kuat. Pembelajaran berbasis kearifan lokal ini juga menumbuhkan kemandirian belajar, di mana siswa sekolah dasar secara aktif mengeksplorasi padanan bahasa Inggris benda-benda di sekitar rumah mereka.
Kendati demikian, pelaksanaan praktik baik ini menghadapi beberapa tantangan. Tantangan pertama adalah timbulnya kegaduhan saat permainan kartu berkelompok yang dapat mengganggu konsentrasi. Tantangan kedua adalah ukuran kartu konvensional yang kurang jelas terlihat dari jarak jauh saat demonstrasi klasikal. Tantangan ketiga adalah risiko ketergantungan siswa sekolah dasar pada petunjuk visual kartu saat memproduksi kata.
Guna mengatasi tantangan tersebut, diterapkan beberapa strategi mitigasi di SDN 3 Benakat. Terhadap kegaduhan kelas, guru menyepakati aturan permainan dan sinyal non-verbal sebelum aktivitas dimulai. Terkait ukuran kartu, penulis membuat dua variasi ukuran, yaitu kartu besar (big-picture flashcard) berukuran 25 x 30 cm untuk presentasi depan kelas dan kartu kecil seukuran kartu nama untuk kerja kelompok. Sementara untuk mengatasi ketergantungan visual, guru menerapkan pengurangan perancah secara bertahap (fading scaffolding) seiring meningkatnya penguasaan siswa, lalu mengalihkan fokus pada bermain peran mandiri tanpa media kartu.
Penutup: Bahasa Daerah Lestari, Bahasa Global Dikuasai
Inovasi JAMAN BINGEN yang memadukan modifikasi flashcard berbasis bahasa ibu dengan metode role play terbukti efektif mendobrak keterbatasan kosakata siswa sekolah dasar di SDN 3 Benakat. Dengan memanfaatkan bahasa Benakat/Enim sebagai perancah kognitif, siswa kelas lima dapat mengatasi hambatan memori jangka pendek dan memahami kosakata rasa pada Unit 1 Buku Siswa My Next Words Grade 5 secara kontekstual dan menyenangkan. Praktik ini membuktikan bahwa pelestarian bahasa daerah dan penguasaan bahasa global dapat menyatu secara harmonis.
Berdasarkan hasil implementasi, dirumuskan beberapa rekomendasi praktis. Pertama, guru sekolah dasar di pedesaan hendaknya memanfaatkan bahasa ibu siswa sebagai aset pembelajaran bahasa asing. Kedua, pihak sekolah perlu mendukung pengembangan media visual berbasis kearifan lokal. Ketiga, dinas pendidikan kabupaten disarankan memfasilitasi diseminasi praktik baik ini agar inovasi berbasis bahasa daerah dapat diadaptasi oleh sekolah dasar lain dengan konteks sosiolinguistik serupa.
Daftar Pustaka
Arifin, S. S. (2018). Struktur Bahasa Benakat. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. (2023). Lemaknye Lemang Dialek Lahat. Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.
Darsana, K. I. P. D. (2025). The Use of Bilingual Flashcards as Learning Media to Teach English Vocabulary for Young Learners. The Art of Teaching English as a Foreign Language (TATEFL), 6(1), 70-82.
Erniwati, E., Mertosono, S. R., Arid, M., & Anggreni, A. (2021). Bilingual Approach: The Role of Flashcards in Teaching Vocabulary to Young Learners. Exposure: Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris, 10(2), 381-389.
EYLC Team. (2021). My Next Words Grade 5 – Student’s Book for Elementary School. Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Huang, I. Y. (2008). Role Play for ESL/EFL Children in the English Classroom. The Internet TESL Journal, 14(2), 1-6.












