enimpost.com,MUARA ENIM — Kualitas udara di sejumlah wilayah Kabupaten Muara Enim, terutama kawasan Muara Enim dan Tanjung Enim, tengah menjadi perhatian masyarakat. Kondisi udara yang dinilai belum aman membuat warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim mencatat 45.491 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berdasarkan data kumulatif dari 24 puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim dr Eni Zatila MKM, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Erdius SKM MPH, mengatakan kasus ISPA tersebar di seluruh wilayah kerja puskesmas.
“Kasus ISPA tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Enim dengan 10.549 kasus, disusul Puskesmas Muara Enim sebanyak 4.406 kasus dan Gunung Megang 2.949 kasus,” ujar Eni, Sabtu (3/10/2026).
Tingginya angka tersebut membuat persoalan kesehatan pernapasan kembali menjadi perhatian, terlebih kondisi lingkungan saat ini turut dipengaruhi sejumlah faktor.
Selain aktivitas di kawasan pertambangan, kualitas udara dapat dipengaruhi kondisi cuaca yang memasuki masa pancaroba. Potensi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena paparan asap dan partikulat halus seperti PM2,5 dapat berdampak terhadap kesehatan pernapasan.
Setelah tiga wilayah dengan kasus tertinggi, Puskesmas Tanjung Agung mencatat 2.491 kasus, Beringin 1.710 kasus, Ujan Mas 1.628 kasus, Lembak 1.598 kasus, Belida Darat 1.497 kasus, Sumber Mulya 1.251 kasus, dan Pajar Bulan 1.078 kasus.
Selanjutnya, Muara Emburung mencatat 1.062 kasus, Panang Enim 1.033 kasus, Benakat 1.020 kasus, Pulau Panggung 1.001 kasus, Sugih Waras 960 kasus, Tebat Agung 826 kasus, Sumaja Makmur 821 kasus, Teluk Lubuk 797 kasus, Kelekar 790 kasus, dan Muara Belida 765 kasus.
Sementara itu, Tanjung Raya mencatat 629 kasus, Gelumbang 621 kasus, Sukarami 594 kasus, dan Empat Petulai sebanyak 436 kasus.
Dinkes Muara Enim kini memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan, termasuk dampak paparan asap karhutla.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kewaspadaan dan surveilans ISPA di seluruh puskesmas. Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paparan asap dan PM2,5 juga terus dilakukan.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker ketika kualitas udara menurun, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan. Menjaga kondisi tubuh dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan pernapasan menjadi bagian penting dari langkah pencegahan.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya perlu memperkuat upaya pencegahan sumber pencemar serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
Sebab, persoalan udara bukan hanya soal angka pada alat pemantau kualitas udara. Ketika udara memburuk, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Dengan kasus ISPA yang tersebar di 24 wilayah kerja puskesmas, kewaspadaan menjadi penting. Udara yang sehat adalah kebutuhan dasar masyarakat, dan menjaga kualitasnya bukan pekerjaan satu pihak.






