Langit Muara Enim Masih Kering, Warga Lapas Mengetuk Pintu Langit

enimpost.com,MUARA ENIM – Ketika langit tak kunjung menurunkan hujan, manusia hanya punya dua pilihan: terus mengeluh atau mulai berikhtiar. Di Lapas Kelas IIB Muara Enim, petugas dan warga binaan memilih menengadah. Jumat (18/2026), mereka menggelar Salat Istisqa, mengetuk pintu langit dengan doa agar hujan kembali turun membawa kehidupan dan keberkahan.

Pagi itu, petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berdiri dalam satu saf, bersama-sama melaksanakan Salat Istisqa.

Tidak ada sekat antara petugas dan warga binaan. Semua sama-sama datang membawa harapan yang sama: memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun, membawa kesejukan, kehidupan, dan keberkahan bagi manusia serta lingkungan.

Bagi mereka, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Hujan berarti kehidupan. Tanah kembali basah, tanaman tumbuh, udara terasa lebih sejuk, dan berbagai aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan lebih baik.

Namun, doa tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam.
Air yang turun dari langit pada akhirnya akan kembali menjadi sumber kehidupan. Karena itu, menjaga lingkungan, menghemat air, merawat tanaman, dan tidak merusak alam merupakan bagian dari rasa syukur manusia atas nikmat yang diberikan.

Di situlah Salat Istisqa memiliki makna yang lebih dalam. Manusia memohon kepada Tuhan untuk diturunkan hujan, sementara manusia pula yang memiliki kewajiban menjaga kebermanfaatan air dan lingkungan setelah hujan itu datang.

Kalapas Muara Enim, Auliya Zulfahmi, mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan sekaligus mengajak jajaran dan WBP semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Salat Istisqa ini merupakan ikhtiar kita bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang cukup, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai dampak kekeringan,” ujarnya.

Suasana khusyuk terlihat sepanjang pelaksanaan ibadah. Di tengah rutinitas kehidupan pemasyarakatan, kegiatan tersebut menghadirkan ruang bagi petugas dan warga binaan untuk berhenti sejenak, melakukan introspeksi dan kembali mengingat bahwa manusia tidak dapat berdiri sendiri tanpa alam dan kuasa Tuhan.

Bagi warga binaan, doa bersama itu juga menjadi bagian dari proses pembinaan. Bahwa menjalani masa pidana bukan hanya tentang menjalani aturan, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat spiritualitas dan membangun kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Sebab ketika hujan akhirnya turun, manfaatnya tidak mengenal batas. Air membasahi tanah milik siapa saja, menyuburkan tanaman yang dirawat bersama dan menghadirkan kesejukan bagi siapa pun.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *