enimpost.com,-Pernah merasa perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat dibanding saat berangkat, meskipun jarak dan durasinya sama? Fenomena ini bukan sekadar perasaan semata, melainkan ilusi psikologis yang telah lama menjadi perhatian para ilmuwan.
Pengalaman unik ini bahkan pernah diungkapkan oleh Alan Bean, astronot dalam misi Apollo 12. Ia mengaku perjalanan kembali ke Bumi terasa lebih cepat dibanding saat menuju Bulan.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai return trip effect atau efek perjalanan pulang. Berbagai penelitian telah mencoba mengungkap penyebabnya, meski hasilnya menunjukkan bahwa faktor pemicu tidak sesederhana yang dibayangkan.
Salah satu asumsi awal menyebutkan bahwa perjalanan pulang terasa lebih cepat karena rute yang dilalui sudah familiar. Namun, pandangan ini dibantah oleh Niels van de Ven, psikolog dari Tilburg University.
“Ketika saya naik pesawat, saya juga merasakan hal yang sama, padahal tidak ada yang saya kenali selama perjalanan,” ujarnya.
Van de Ven kemudian melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji fenomena tersebut. Dalam salah satu penelitiannya, sekelompok pesepeda diminta menempuh perjalanan menuju sebuah lokasi melalui rute tertentu. Saat kembali, mereka dibagi ke dalam dua kelompok dengan rute berbeda, namun jarak tetap sama.
Hasilnya mengejutkan. Kedua kelompok sama-sama merasakan perjalanan pulang lebih cepat, terlepas dari apakah mereka melalui jalur yang sama atau tidak. Temuan ini menegaskan bahwa faktor keakraban rute bukanlah penyebab utama.
Van de Ven menyimpulkan, kunci dari fenomena ini justru terletak pada ekspektasi seseorang sebelum perjalanan dimulai. Menurutnya, banyak orang cenderung terlalu optimistis saat memperkirakan durasi perjalanan.
Akibatnya, perjalanan pergi terasa lebih lama dari yang dibayangkan. Sebaliknya, saat perjalanan pulang, ekspektasi tersebut cenderung menurun atau bahkan tidak ada, sehingga waktu terasa berjalan lebih cepat.
Pandangan serupa disampaikan oleh Michael Roy dari Elizabethtown College. Ia menyebut bahwa persepsi waktu sangat dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan seseorang terhadap tujuan perjalanan.
Meski demikian, Roy menegaskan bahwa ekspektasi bukan satu-satunya faktor. Ada kemungkinan faktor lain turut berperan dalam menciptakan ilusi tersebut.
Pendapat berbeda datang dari Richard A. Block dari Montana State University, yang menyoroti aspek tekanan psikologis. Ia menjelaskan, perjalanan menuju tujuan biasanya dibarengi tekanan untuk tiba tepat waktu, sehingga perhatian terhadap waktu menjadi lebih intens.
Sebaliknya, saat perjalanan pulang, tekanan tersebut cenderung berkurang. Kondisi yang lebih santai membuat seseorang tidak terlalu fokus pada waktu, sehingga perjalanan terasa lebih singkat.
Fenomena ini kerap dialami dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan ke kantor di pagi hari terasa lama karena dikejar waktu, sementara perjalanan pulang di sore hari terasa lebih cepat. Hal serupa juga terjadi saat liburan atau menghadiri acara, di mana perjalanan menuju lokasi terasa panjang, tetapi perjalanan pulang seolah berlangsung singkat.
Pada akhirnya, efek perjalanan pulang hanyalah ilusi psikologis yang dipengaruhi oleh ekspektasi dan kondisi mental. Meski demikian, Van de Ven menilai ilusi ini justru memberi dampak positif.
“Efek ini memberikan perasaan menyenangkan saat seseorang tiba di rumah. Jadi, mungkin kita tidak benar-benar ingin kehilangan perasaan itu,” ujarnya.







