enimpost.com,TANJUNG ENIM – Kecintaan terhadap musik mempertemukan sejumlah musisi Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dalam satu kelompok bernama Te Plus. Selama sekitar enam tahun, band yang terbentuk sejak 2020 itu konsisten memainkan dan menghidupkan kembali lagu-lagu Koes Plus dengan beragam warna musik.
Te Plus lahir dari kebiasaan para musisi yang sering berkumpul dan melakukan jamming bersama di Studio Alan Persada, RT 02 RW 05, Bukit Munggu, Tanjung Enim. Dari aktivitas tersebut muncul gagasan membentuk sebuah grup yang mampu memainkan berbagai genre musik.
Manajer Te Plus, Holip, mengatakan para personel memiliki kesamaan hobi dan merupakan bagian dari komunitas musisi Tanjung Enim. Mereka terbiasa memainkan berbagai aliran musik saat berkumpul.
“Semua player satu frekuensi dalam hobi musik. Kami sering jamming bersama dengan membawakan berbagai genre. Dari situlah muncul keinginan membentuk satu grup yang bisa memainkan beragam jenis musik,” kata Holip.
Pilihan akhirnya jatuh pada lagu-lagu Koes Plus. Menurut dia, karya kelompok musik legendaris Indonesia tersebut memiliki karakter musik yang beragam, mulai dari keroncong, pop, rock, irama Jawa, blues, swing, melankolis hingga balada.
Konsep itu kemudian menjadi identitas Te Plus. Mereka tidak membatasi diri pada satu genre, tetapi berusaha menghadirkan warna musik Koes Plus dengan kemampuan masing-masing personel.
Diisi Musisi Berpengalaman
Te Plus diperkuat enam unsur utama, yakni Mitok sebagai bassist, Yanto pada gitar, Junaidi sebagai lead gitar, Kuswara sebagai drummer, Eko/Yudi pada keyboard, serta vokalis Holip, Gunadi, Heri dan seluruh pemain.
Para personelnya bukan nama baru di dunia musik Tanjung Enim. Sebagian memiliki pengalaman bersama kelompok musik sebelumnya.
Mitok merupakan mantan bassist Bara Band, Junaidi pernah bergabung dengan orkes Yuliska, Yanto dikenal sebagai gitaris keroncong Porsiba Bukit Asam, Kuswara merupakan eks drummer Aska Band, sedangkan Eko berpengalaman sebagai pemain organ.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Te Plus dalam memainkan berbagai karakter lagu.
Sejak terbentuk pada masa pandemi Covid-19 pada 2020, Te Plus menjadikan Studio Alan Persada sebagai basis kegiatan. Para personel rutin berlatih setiap malam Sabtu.
Lebih Banyak Tampil di Acara Keluarga
Selama berkiprah, Te Plus telah mengisi berbagai kegiatan masyarakat. Mereka pernah tampil dalam acara pernikahan, family gathering, halal bihalal lembaga swadaya masyarakat (LSM), syukuran, hingga hiburan keluarga menjelang dan pada puncak acara pernikahan.
Namun, hingga kini Te Plus belum pernah mendapat kesempatan tampil dalam acara seremonial pemerintahan.
Holip berharap pemerintah daerah maupun perusahaan BUMN dapat memberikan ruang bagi Te Plus untuk tampil dalam berbagai kegiatan.
“Kami berharap pemerintah daerah dan BUMN dapat memberikan ruang dan kesempatan kepada Te Plus untuk mengisi acara seremonial maupun kegiatan lainnya. Kami ingin terus berprestasi dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Menurut dia, kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan resmi tidak hanya menjadi ruang bagi Te Plus untuk berkembang, tetapi juga bagian dari upaya menjaga eksistensi musik legendaris Indonesia.
Ke depan, Te Plus ingin menjadi salah satu grup musik di Tanjung Enim yang konsisten melestarikan karya-karya Koes Plus sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.
Holip juga mengajak generasi muda yang memiliki hobi musik untuk terus berkarya dan mengembangkan kreativitas.
“Untuk generasi muda penghobi seni musik, teruslah berkarya dan jangan melupakan lagu-lagu musisi legendaris Indonesia. Salam satu hobi, music legend,” kata Holip.(*)












