Dari Drainase hingga Balai Warga, Gotong Royong Tetap Menjadi Perekat Talang Jawa

enimpost.com,TANJUNG ENIM – Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk dan individualistis, semangat gotong royong masih terawat dengan baik di lingkungan Parigi, RT 02 RW 04 Talang Jawa, Kelurahan Pasar Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim. Nilai kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat kembali terlihat dalam kegiatan gotong royong yang dilaksanakan pada Minggu (24/5/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas imbauan pemerintah terkait upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), sekaligus antisipasi menghadapi musim hujan dan persiapan menjelang Hari Raya Idul Adha. Sejak pagi hari, warga berkumpul dan bekerja bersama membersihkan saluran drainase di sekitar lingkungan RT yang selama ini menjadi jalur utama aliran air.

Bagi masyarakat Talang Jawa, gotong royong bukan sekadar agenda rutin membersihkan lingkungan. Kegiatan itu menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat hubungan sosial antartetangga sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.

Ketua RT 02 RW 04 Parigi Talang Jawa, Hendro Aldo Irawan, mengatakan bahwa budaya gotong royong merupakan warisan sosial yang harus terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman.

“Melalui kegiatan seperti ini, warga tidak hanya bekerja bersama membersihkan lingkungan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan membangun kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menurut kami harus terus dijaga,” ujarnya.

Menurut Hendro, tingginya partisipasi warga menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat dalam menyelesaikan berbagai kebutuhan lingkungan secara mandiri.

Selain membersihkan drainase, warga juga memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan penataan fasilitas umum milik RT. Secara swadaya, mereka memasang atap pada teras gudang RT dan menyemen lantainya agar lebih rapi dan nyaman digunakan.

Pekerjaan itu dilakukan melalui pembagian tugas yang sederhana namun efektif. Sebagian warga fokus membersihkan lingkungan, sementara yang lain mengerjakan pembangunan fasilitas. Semua dilakukan secara sukarela dengan mengedepankan kepentingan bersama.

Ke depan, bangunan tersebut direncanakan menjadi balai mini warga. Tempat itu akan digunakan sebagai ruang berkumpul, bermusyawarah, serta pusat berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Kami berharap balai mini ini nantinya dapat menjadi ruang interaksi warga. Tidak hanya untuk rapat atau kegiatan RT, tetapi juga sebagai tempat mempererat hubungan antarwarga sehingga suasana kekeluargaan tetap terjaga,” kata Hendro.

Dalam pandangan sosiologis, gotong royong merupakan salah satu modal sosial yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Modal sosial tersebut tercermin melalui kepercayaan, solidaritas, dan kerja sama yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat memiliki modal sosial yang kuat, berbagai persoalan lingkungan maupun sosial dapat diselesaikan secara lebih efektif.

Semangat itulah yang terlihat di Parigi Talang Jawa. Kehadiran warga yang menyumbangkan tenaga, material, hingga gagasan menunjukkan bahwa kepentingan bersama masih menjadi prioritas. Tidak ada sekat usia maupun latar belakang. Semua hadir dengan tujuan yang sama, yakni menciptakan lingkungan yang lebih baik.

Hendro juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Ia berharap semangat kebersamaan yang telah terbangun dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi manfaat bagi lingkungan dan menjadi kenangan baik bagi anak-anak kita nanti. Yang terpenting, semangat guyub dan kompak ini jangan sampai hilang karena itulah kekuatan terbesar masyarakat,” ujarnya.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, gotong royong di Talang Jawa menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang, pembangunan justru lahir dari kesediaan warga untuk berkumpul, bekerja bersama, dan saling peduli demi lingkungan tempat mereka hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *