enimpost.com,MUARA ENIM— Pemerintah Kabupaten Muara Enim tidak hanya mengandalkan doa untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga November 2026. Di tengah ancaman kekeringan dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah daerah menyiapkan langkah pencegahan dengan menyediakan bantuan ekskavator gratis bagi masyarakat.
Ikhtiar tersebut berjalan beriringan dengan upaya spiritual. Pemkab Muara Enim menggelar Salat Istisqa berjamaah di Halaman Kantor Bupati Muara Enim, Kamis (3/9/2026), sebagai bentuk doa dan permohonan agar hujan segera turun serta membawa keberkahan bagi masyarakat.
Salat Istisqa diikuti Plt Bupati Muara Enim Ir. Hj. Sumarni, M.Si., unsur Forkopimda, Sekda Muara Enim Ir. H. Yulius, M.Si., jajaran ASN dan masyarakat. Salat diimami Ustaz Halimi, S.Ag., sedangkan khotbah disampaikan Dr. H. Solihan, S.Ag., M.Pd.I.
Namun, di balik pelaksanaan Salat Istisqa, Pemkab Muara Enim juga menyiapkan langkah konkret menghadapi dampak kemarau. Salah satunya dengan memberikan akses penggunaan alat berat berupa ekskavator secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan untuk membuka lahan tanpa menggunakan metode pembakaran.
Plt Bupati Muara Enim Sumarni mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mencegah masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar yang berpotensi memicu karhutla.
“Masyarakat dapat menggunakan ekskavator yang disediakan pemerintah untuk membuka lahan secara gratis tanpa dipungut biaya. Ini salah satu upaya kita mencegah pembukaan lahan dengan cara dibakar,” ujar Sumarni.
Menurut dia, perhatian khusus diberikan kepada wilayah yang memiliki titik panas cukup tinggi, terutama Kecamatan Gelumbang dan Sungai Rotan.
Kedua wilayah tersebut menjadi perhatian karena tercatat sebagai kawasan dengan jumlah hotspot terbanyak di Kabupaten Muara Enim. Kondisi kemarau yang panjang membuat risiko munculnya titik api semakin besar apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, Sumarni meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar.
“Mari kita sama-sama menjaga lingkungan. Jangan membakar sampah sembarangan dan jangan membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.
Menurut Sumarni, menghadapi kemarau bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kebakaran dan menjaga lingkungan di wilayah masing-masing.
Hal itu pula yang menjadi pesan dalam pelaksanaan Salat Istisqa. Pemerintah mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat kebersamaan dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau.
“Kita harus saling merangkul dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Mudah-mudahan dengan ikhtiar dan doa bersama, hujan segera turun dan kondisi kembali normal,” katanya.
Di sisi lain, Pemkab Muara Enim memberikan apresiasi kepada tim gabungan yang selama ini berada di garis depan penanganan titik api. TNI-Polri, BPBD, Damkar hingga masyarakat terus dikerahkan untuk melakukan pemadaman di berbagai lokasi.
Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko karhutla selama musim kemarau. Terlebih, kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat menyebar dan sulit dikendalikan.
Salat Istisqa pun menjadi momentum bagi Pemkab Muara Enim untuk mengingatkan bahwa menghadapi kemarau membutuhkan dua sisi sekaligus: ikhtiar dan doa.
Di satu sisi, pemerintah menyiapkan sarana pencegahan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Di sisi lain, pemerintah bersama masyarakat memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan kemarau panjang dapat segera berakhir.












