PAMA Kembangkan Budidaya Maggot untuk Kelola Sampah Organik

enimpost.com,MUARA ENIM, – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mendorong masyarakat Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim) Bukit Agung yang terintegrasi dalam Kampung Berdikari PAMA. Pelatihan budidaya maggot digelar di halaman Perpustakaan Cakrawala, Desa Keban Agung, Jumat (21/8/2026).

Pelatihan budidaya Maggot di Desa Keban Agung

Pelatihan diikuti masyarakat setempat dan dilanjutkan dengan praktik penempatan fasilitas budidaya maggot di halaman belakang rumah warga.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai teknik dasar budidaya maggot sekaligus pemanfaatan limbah organik rumah tangga sebagai sumber pakan.

Pemateri dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muara Enim, Idarsih, mengatakan pengelolaan sampah sebaiknya dilakukan sejak dari sumbernya.

“Melalui budidaya maggot, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan menghasilkan maggot yang dapat digunakan sebagai alternatif pakan,” ujar Idarsih.

Menurut dia, penerapan budidaya maggot secara konsisten dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Maggot BSF memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai alternatif pakan berprotein bagi kegiatan peternakan. Dengan demikian, limbah organik rumah tangga tidak hanya dikelola agar tidak menjadi sampah, tetapi juga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.

Perwakilan CSR PAMA Dhimas Wahyu mengatakan, pengembangan budidaya maggot merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

“Pelatihan budidaya maggot ini merupakan salah satu bentuk komitmen PAMA dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui Program Kampung Iklim yang menjadi bagian dari Kampung Berdikari PAMA,” kata Dhimas.

PAMA berharap masyarakat dapat mengelola limbah organik secara mandiri sekaligus memanfaatkan hasil budidaya maggot untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif.

“Kami berharap masyarakat dapat mengelola limbah organik secara mandiri sekaligus memanfaatkannya menjadi sesuatu yang bernilai guna dan bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ketua Penggerak ProKlim Bukit Agung Sutrisno mengapresiasi dukungan PAMA dan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) dalam kegiatan tersebut.

“Melalui pelatihan ini, masyarakat mendapatkan pengetahuan baru untuk mengelola limbah organik sekaligus mendukung kegiatan peternakan,” kata Sutrisno.

Ia berharap budidaya maggot dapat dikembangkan lebih luas dan dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Keban Agung.

Pengembangan budidaya maggot tersebut juga menjadi salah satu upaya menerapkan konsep ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Limbah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sementara maggot yang dihasilkan dapat digunakan sebagai alternatif pakan untuk kegiatan peternakan.

Melalui ProKlim Bukit Agung, PAMA berharap masyarakat semakin mandiri dalam mengelola lingkungan dan mampu mengoptimalkan potensi lokal untuk memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *