enimpost.com,MUARA ENIM – Ada cara sederhana yang dipilih Penyuluh Agama Islam KUA Gunung Megang, Robin Raharja, S.Pd.I., untuk memotivasi jamaah agar tetap istiqamah menuntut ilmu. Ia menyisihkan 2,5 persen dari gajinya setiap bulan untuk kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk membelikan jilbab syar’i bagi jamaah Majelis Taklim Ash Sholihin.
Aksi tersebut dilakukan dalam peringatan satu tahun Pengajian Majelis Taklim Ash Sholihin Desa Gunung Megang Luar yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Bagi Robin, hadiah yang diberikan kepada jamaah bukan sekadar soal nilai materi. Jilbab tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi kaum ibu yang selama ini rutin mengikuti pengajian dan memperdalam ilmu agama.
Menariknya, dana yang digunakan berasal dari komitmen pribadinya. Setiap bulan, Robin menyisihkan 2,5 persen dari gajinya atau sekitar Rp205 ribu untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Menurut dia, kebiasaan tersebut merupakan ikhtiar kecil untuk meneladani perjuangan Rasulullah Muhammad SAW.
“Rasulullah dahulu berjuang dengan tenaga, pikiran, bahkan harta demi agama. Maka kami sebagai penyuluh juga ingin ikut meneladani beliau. Kami berkorban sedikit agar ibu-ibu Majelis Taklim tetap semangat mengaji,” ujar Robin.
Ia berharap pemberian sederhana itu dapat memperkuat semangat jamaah untuk terus hadir di majelis ilmu dan menjaga kebiasaan mengaji.
Robin mengatakan, menjadi penyuluh agama bukan hanya berbicara tentang menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Lebih dari itu, seorang penyuluh juga harus berupaya memberikan contoh melalui tindakan nyata.
Berdakwah dengan Ketulusan
Robin juga menyinggung pandangan sebagian masyarakat yang masih mengaitkan profesi pendakwah dengan pemberian amplop atau imbalan.
Menurut dia, materi seharusnya tidak menjadi tujuan utama dalam berdakwah. Seorang pendakwah, kata dia, harus menjaga ketulusan dalam menyampaikan ajaran agama.
“Prinsip yang kami pegang, berdakwah dengan tulus. Kalaupun ada fulus, itu bonus, bukan tujuan utama,” katanya.
Sebelum diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK Penyuluh Agama, Robin menekuni profesi sebagai pedagang. Pengalaman tersebut, menurut dia, membuatnya tidak menjadikan kegiatan ceramah atau dakwah sebagai sumber utama untuk mencari penghasilan.
“Alhamdulillah, sebelum diangkat menjadi PPPK Penyuluh Agama, profesi yang kami tekuni adalah pedagang. Rasulullah juga pernah menjadi pedagang. Jadi, kami tidak hidup dengan mengandalkan amplop dari ceramah atau dakwah,” ujarnya.
Robin menilai, dakwah harus tetap ditempatkan sebagai sarana menyebarkan kebaikan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dimulai dari Diri Sendiri
Selain aktif memberikan penyuluhan, Robin juga kerap mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan keagamaan melalui penggalangan donasi.
Namun, ia meyakini ajakan untuk bersedekah harus dimulai dari diri sendiri.
“Kami sering membuka donasi untuk kegiatan sosial keagamaan. Maka kami ingin memulainya dari diri sendiri. Jangan sampai kita mengajak orang bersedekah, sementara kita sendiri tidak suka bersedekah,” tuturnya.
Karena itu, kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan menjadi salah satu bentuk komitmen pribadinya. Nominalnya mungkin tidak besar, tetapi diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi contoh bahwa ajakan kebaikan perlu dibarengi dengan tindakan.
Peringatan satu tahun Majelis Taklim Ash Sholihin yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah pun menjadi momentum mempererat silaturahmi dan meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah.
Di tengah kegiatan tersebut, hadiah jilbab yang diberikan Robin kepada para jamaah menjadi simbol sederhana tentang kepedulian. Sebab, bagi dia, dakwah bukan hanya tentang apa yang disampaikan dari mimbar, melainkan juga tentang kebaikan yang berusaha diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.(*)












