JAKARTA,ENIMPOST.COM,- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Indonesia-Russia Business Forum bertajuk “Made in Indonesia: Doubling Trade and Investment between Indonesia and Russia” di Hotel Artotel Mangkuluhur, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026). Forum ini menjadi wadah untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui peningkatan perdagangan, investasi, dan kerja sama industri.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, forum tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan ekspor Indonesia yang saat ini bernilai sekitar 300 miliar dolar AS, sekaligus memperluas pasar bagi produk nasional. Menurut Anin sapaan akrabnya, peningkatan ekspor akan turut memperbesar penerimaan devisa negara.
Anindya atau Anin, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa nilai perdagangan Indonesia dan Rusia saat ini mencapai sekitar 5 miliar dolar AS. Namun, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan sekitar 1 miliar dolar AS sehingga perlu meningkatkan ekspor ke Rusia.
“Karena itu, saya juga mempromosikan buku We Buy From Indonesia yang tentunya membantu kita mempromosikan dan menjual lebih banyak barang. Produk yang sudah dibeli oleh luar negeri dan tercantum dalam buku We Buy From Indonesia bukan hanya barang konsumsi,” ujar Anin.
Ia menambahkan, Indonesia perlu memperluas peluang agar Rusia semakin banyak membeli produk Indonesia. Di sisi lain, kerja sama kedua negara juga dapat dikembangkan melalui investasi dan pemanfaatan teknologi Rusia di Indonesia.
“Tapi intinya bagaimana Rusia itu bisa juga buy from Indonesia. But first, we make in Indonesia dengan teknologi dan investasi Rusia. Jadi saya rasa itu menarik sekali,” kata Anin.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum (WKU) Koordiator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James T. Riady mengatakan, kawasan Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia dalam satu abad mendatang. Menurutnya, pusat perhatian ekonomi dunia tidak lagi hanya berada di kawasan Atlantik, tetapi semakin bergeser ke Pasifik, dengan Amerika Serikat, Tiongkok dan Indonesia sebagai negara yang memiliki peran penting.
James menilai Indonesia memiliki posisi strategis berkat letak geografis, sumber daya manusia, kekayaan alam, dan besarnya pasar domestik. Ia juga menyebut Presiden Prabowo Subianto ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersahabat dengan semua pihak sekaligus memainkan peran penting di kawasan Pasifik, khususnya Asia.
Karena itu, James mendorong perusahaan-perusahaan Rusia untuk mulai berinvestasi di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis mereka.
“Perusahaan-perusahaan Rusia akan lebih diuntungkan jika mulai berinvestasi di Indonesia. Bawalah perusahaan-perusahaan Rusia dan mulailah berinvestasi di Indonesia. Inilah tempat bagi pertumbuhan bisnis Anda, inilah tempat Anda, dan kami siap menyambutnya,” kata James.
Ia menambahkan, peningkatan ekspor Indonesia ke Rusia perlu diimbangi dengan masuknya investasi, pembangunan pabrik, serta transfer teknologi dan keahlian dari Rusia ke Indonesia.
“Kita bisa mengekspor banyak produk ke sana, tetapi kita membutuhkan pabrik-pabrik Rusia, teknologi Rusia, dan keahlian Rusia untuk berinvestasi di Indonesia,” ujarnya.
Lebih jauh, Ketua Komite Bilateral Rusia-Belarusia Kadin Indonesia Didit Ratam mengatakan, forum tersebut berlangsung pada momentum penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia. Ia merujuk pada pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026, yang dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam pidato tersebut, Prabowo menyampaikan tantangan untuk menggandakan nilai perdagangan Indonesia-Rusia dalam periode evaluasi pertama selama lima tahun. Didit menilai target tersebut ambisius, tetapi realistis untuk dicapai.
“Kami meyakini target ini ambisius, tetapi realistis dan dapat kita capai,” ujar Didit.
Didit menjelaskan, forum tersebut mempertemukan pemimpin pemerintah dan pelaku usaha dari kedua negara yang ingin menjajaki pasar, mencari mitra bisnis, mengembangkan peluang investasi, dan merealisasikan berbagai proyek kerja sama.
Sejumlah sektor yang terlibat mencakup pelayaran dan pembuatan kapal, keuangan, perdagangan, logistik, pertanian, dan industri. Perwakilan Danantara juga hadir untuk mendukung pembahasan peluang kerja sama investasi. Menurut Didit, tantangan utama dalam forum ini adalah mempertemukan kepentingan berbagai pihak agar peluang yang tersedia dapat diwujudkan menjadi kerja sama bisnis yang konkret.
“Tugas kita hari ini adalah mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dan mengubah peluang menjadi kerja sama bisnis yang nyata. Inilah yang kami maksud dengan penjodohan bisnis (business matching),” tuturnya.
Turut hadir dalam acara tersebut WKU Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erna Rachmawati dan WKU Bidang Perlindungan Pekerja Migran Kadin Indonesia Nofel Saleh Hilabi.(ril)





