Diuji di Lintasan 16 Km, Pekerja Tambang BAS Ditempa Fisik, Mental, dan Soliditas Tim

enimpost.com,MUARA ENIM – Bukan di pit tambang, melainkan di lintasan sepanjang 16 kilometer, PT Bara Anugrah Sejahtera (BAS) menguji daya tahan fisik dan mental para pekerjanya. Melalui ajang Saka Jaya Runner yang digelar Minggu (12/4/2026), perusahaan tambang ini mengubah olahraga menjadi simulasi nyata tekanan kerja di lapangan—sekaligus memperkuat komunikasi tim yang kerap menjadi penentu keselamatan operasional.

Puluhan peserta dari PT BAS, PT Banjarsari Pribumi (BP), dan mitra kerja dilepas dari Terminal Regional menuju Desa Saka Jaya. Rute panjang yang melintasi Rumah Tumbuh, Perumahan Rapen, hingga Harapan Jaya itu bukan sekadar ajang kebugaran, melainkan “ruang uji” ketahanan individu di tengah kelelahan dan tekanan.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BAS, Pangihutan Siboro, menegaskan bahwa industri pertambangan tidak hanya bertumpu pada alat berat dan teknologi, tetapi juga pada kesiapan manusia yang mengoperasikannya. Dalam kondisi kerja yang penuh risiko, faktor fisik dan mental menjadi garis pertahanan pertama.

“Di tambang, kita dituntut tetap fokus dalam kondisi tidak ideal. Lari 16 kilometer ini menggambarkan itu—bagaimana bertahan saat lelah, bagaimana tetap konsisten saat tekanan datang,” ujar Pangihutan.

Menurutnya, kelelahan fisik sering kali berbanding lurus dengan penurunan konsentrasi. Dalam konteks tambang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Karena itu, pembentukan stamina dan mental tangguh menjadi bagian penting dari strategi perusahaan menjaga keselamatan dan produktivitas.

Namun, yang membuat kegiatan ini berbeda adalah fungsi gandanya sebagai ruang komunikasi informal. Di luar suasana kerja yang formal dan terstruktur, para pekerja justru menemukan ruang interaksi yang lebih terbuka di lintasan lari.

Percakapan ringan, saling menyemangati, hingga berbagi pengalaman terjadi secara alami sepanjang rute. Situasi ini menciptakan kedekatan emosional yang sulit terbentuk di tengah tekanan target produksi dan ritme kerja yang ketat.

“Koordinasi di lapangan sangat bergantung pada komunikasi. Kalau hubungan antarpekerja kuat, maka potensi miskomunikasi bisa ditekan. Ini berdampak langsung pada keselamatan,” kata Pangihutan.

Ia menambahkan, komunikasi informal yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan tim kerja yang solid. Dalam industri berisiko tinggi seperti pertambangan, kepercayaan antaranggota tim menjadi faktor krusial.

Lebih jauh, filosofi “nyaman di tengah ketidaknyamanan” yang diusung dalam kegiatan ini mencerminkan realitas dunia tambang. Pekerja dituntut mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi, mulai dari cuaca ekstrem hingga tekanan operasional.

Melalui Saka Jaya Runner, perusahaan ingin menanamkan bahwa ketangguhan bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan mental untuk bertahan dan tetap produktif di tengah situasi sulit.

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari itu ditutup dalam suasana kebersamaan, namun menyisakan pesan kuat: keberhasilan operasional tambang tidak hanya ditentukan oleh sistem dan teknologi, melainkan oleh manusia yang tangguh dan saling terhubung.

Di tengah dinamika industri yang semakin kompleks, langkah PT BAS ini menjadi sinyal bahwa investasi pada fisik, mental, dan komunikasi pekerja bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis pertambangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *