Tiga Anak Muda Jadi Narasumber Pelatihan Aksara Ulu, Bukti Generasi Muda Peduli Pelestarian Budaya Sumsel

ENIMPOST.COM,PALEMBANG – Kepedulian generasi muda terhadap pelestarian warisan budaya daerah ditunjukkan melalui keterlibatan tiga anak muda sebagai narasumber dalam kegiatan Belajar Bersama di Museum bertema “Menulis Aksara Ulu Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan di Media Bambu”, Selasa (20/10/2026), di Museum Negeri Sumatera Selatan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Museum Negeri Sumatera Selatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan dan pelestarian kebudayaan dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional 2026. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, diajak mengenal kembali Aksara Ulu sebagai salah satu warisan literasi tradisional yang menyimpan nilai sejarah dan identitas budaya masyarakat Sumatera Selatan.

Tiga narasumber muda yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Yasin Ismail, S.Hum. (Pemuda Kabupaten OKU Selatan), yang membawakan materi mengenai penulisan Aksara Ulu; Derry Pangestu Ramadhan, S.I.Kom. (Pemuda Kabupaten Muara Enim), yang berbagi pengetahuan dan praktik menulis Aksara Ulu di media bambu; serta Nuzulur Ramadhona, M.Hum. (Pemuda Kabupaten Lahat), yang memperkenalkan koleksi naskah Ulu Museum Negeri Sumatera Selatan dan pembelajaran Aksara Ulu.

Keterlibatan ketiganya menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, museum, maupun para ahli, melainkan juga membutuhkan peran aktif generasi muda. Dengan pengetahuan, kreativitas, dan pendekatan yang dekat dengan masyarakat, anak muda dapat menjadi jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan kehidupan generasi masa kini.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada sejarah dan kekayaan koleksi Aksara Ulu, tetapi juga diajak mempraktikkan penulisan aksara pada media bambu. Penggunaan bambu sebagai media menulis memberikan pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus memperkenalkan kembali tradisi literasi yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat Sumatera Selatan.

Pendekatan praktik ini diharapkan mampu menumbuhkan ketertarikan peserta untuk mempelajari Aksara Ulu lebih jauh. Dengan demikian, aksara tradisional tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu yang tersimpan di museum, tetapi juga sebagai pengetahuan budaya yang dapat dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si., menjadi salah satu pemangku kepentingan yang memiliki peran strategis dalam mendorong pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seperti ini sejalan dengan pentingnya regenerasi pelaku budaya agar warisan leluhur tetap dikenal dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Dalam draf pernyataan untuk dikonfirmasi kepada yang bersangkutan, Rudi Irawan dapat menekankan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan lintas generasi, terutama anak muda yang memiliki kreativitas dan kemampuan memanfaatkan berbagai media untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah.

“Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk generasi muda. Kami berharap keterlibatan anak-anak muda dalam mengenalkan Aksara Ulu dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya Sumatera Selatan sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda untuk mempelajarinya.”

Sementara itu, Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan, Anang Purnomo Kurniawan, S.T., M.Kom., memiliki peran penting dalam mendorong museum sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi masyarakat. Melalui kegiatan Belajar Bersama di Museum, koleksi museum diperkenalkan tidak hanya sebagai benda bersejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat dipelajari secara langsung.

Dalam draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi sebelum dipublikasikan, Anang dapat menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang interaktif untuk mendekatkan warisan budaya kepada generasi muda.

“Melalui kegiatan Belajar Bersama di Museum, kami ingin menghadirkan museum sebagai ruang belajar yang interaktif dan menyenangkan. Koleksi Aksara Ulu tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan identitas budaya yang perlu terus diperkenalkan. Keterlibatan anak muda sebagai narasumber menjadi langkah positif agar warisan budaya ini tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi mendatang.”

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat diwujudkan melalui langkah konkret, mulai dari mempelajari aksara, berbagi pengetahuan, hingga mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan pelestarian. Peran anak muda menjadi penting agar tradisi literasi lokal tidak terputus oleh perubahan zaman.

Lebih dari sekadar kegiatan menulis, pelatihan ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah, kreativitas, dan semangat generasi muda untuk menjaga identitas daerah. Aksara Ulu yang dahulu digunakan dalam tradisi tulis masyarakat kini memiliki kesempatan untuk kembali dikenal melalui pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, museum, pegiat budaya, dan masyarakat, Aksara Ulu diharapkan terus memperoleh ruang untuk berkembang dan dikenal lebih luas. Sebab, menjaga warisan budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memastikan bahwa pengetahuan dan identitas leluhur tetap hidup dalam perjalanan generasi masa depan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *