enimpost.com,TANJUNG ENIM – Sebuah batu diletakkan di atas tanah yang sebelumnya belum memiliki bangunan. Namun Senin pagi (21/9/2026), batu itu bukan sekadar penanda dimulainya sebuah proyek. Di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Lawang Kidul, batu tersebut menjadi simbol tumbuhnya harapan warga untuk memiliki tempat ibadah yang kelak bukan hanya menjadi rumah untuk bersujud, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan belajar agama.
Pukul 08.00 WIB, suasana di RT 7A yang berbatasan dengan RT 4B mulai ramai. Warga berdatangan. Perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, karang taruna hingga warga dari lingkungan sekitar berkumpul menyaksikan dimulainya pembangunan Mushola Al Mujahidin.
Tidak ada kemewahan dalam kegiatan tersebut. Yang terlihat justru kebersamaan.
Acara diawali sambutan dan doa yang dipimpin Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Bukit Lahu Tegal Rejo, KH Tulus Abadi. Setelah itu, satu per satu batu pertama diletakkan. Sekretaris Desa Tegal Rejo Inka Pratiwi menjadi yang pertama, disusul Ketua BPD H. Maryanto AD, kepala dusun, ketua RT, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Bagi panitia pembangunan, momen itu menjadi awal dari pekerjaan panjang. Setelah seremoni selesai, masih ada pekerjaan besar yang menunggu: bagaimana bangunan tersebut dapat berdiri hingga bisa digunakan masyarakat.
Ketua Panitia Pembangunan Mushola Al Mujahidin, Lilik Agus Wari, menyebut pembangunan mushola tidak akan dimulai tanpa adanya kemurahan hati keluarga yang mewakafkan tanah.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Bapak Suhada dan keluarga H. Sudiharjo yang telah mewakafkan tanah untuk pembangunan mushola.
“Semoga menjadi amal jariah dan pahalanya terus mengalir,” ujar Lilik.
Kalimat itu seolah menjadi ruh dari pembangunan Mushola Al Mujahidin. Sebidang tanah yang diwakafkan hari ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya amal kebaikan yang manfaatnya dirasakan banyak orang.
Kini, panitia kembali mengetuk pintu kepedulian masyarakat.
Lilik mengajak masyarakat Desa Tegal Rejo maupun masyarakat luas untuk ikut menjadi bagian dari pembangunan tersebut. Bantuan, katanya, tidak harus selalu berupa uang. Material bangunan pun akan sangat berarti.
Sebab setiap bantuan yang diberikan akan menjadi bagian dari bangunan yang nantinya digunakan masyarakat untuk salat, mengaji, belajar agama dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Di sisi lain, Pemerintah Desa Tegal Rejo melihat pembangunan Mushola Al Mujahidin sebagai bagian dari pertumbuhan kehidupan keagamaan masyarakat. Sekretaris Desa Tegal Rejo, Inka Pratiwi, menyebut mushola tersebut akan menjadi mushola ke-17 di Desa Tegal Rejo.
Ia berharap pembangunan itu mampu menggerakkan semangat gotong royong warga.
“Kami berharap masyarakat berlomba-lomba memberikan donasi sebagai bentuk tabungan di akhirat,” kata Inka.
Ada sebuah harapan sederhana di balik pembangunan ini. Ketika bangunan itu kelak berdiri, mungkin tidak ada yang akan mengingat siapa yang pertama kali memegang sekop atau siapa yang pertama kali meletakkan batu.
Tetapi nama para pewakaf, para penyumbang, para pekerja dan semua orang yang ikut membantu, diharapkan tetap meninggalkan jejak dalam setiap aktivitas ibadah yang berlangsung di dalamnya.
Dari sebuah tanah wakaf, kemudian sebuah batu diletakkan. Dari batu itu, warga Tegal Rejo sedang membangun lebih dari sekadar dinding dan atap.
Mereka sedang membangun tempat untuk bersujud sekaligus menanam harapan agar kebaikan terus tumbuh, bahkan ketika mereka kelak sudah tidak lagi berada di sana.(*)












