enimpost.com,PALEMBANG – Ada cara berbeda yang ditawarkan Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Bara Anugrah Sejahtera (BAS) Muara Enim dalam uji kompetensi KTT yang digelar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Di tengah pemaparan berbagai aspek teknis dan keselamatan pertambangan, olahraga lari diangkat sebagai bagian dari strategi kesehatan kerja.
Bukan sekadar aktivitas fisik atau program kebugaran karyawan. Olahraga lari diposisikan sebagai leading indicator atau indikator proaktif untuk membantu mengantisipasi dan mencegah risiko penyakit non-metabolik di lingkungan kerja.
Gagasan tersebut dipaparkan oleh KTT PT BAS, Pangihutan Siboro di hadapan tim penguji Inspektur Tambang Kementerian ESDM dalam rangkaian uji kompetensi yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom. Kegiatan berlangsung pada 25 Juni hingga 9 Juli 2026 dan diikuti sekitar 234 peserta calon KTT dari berbagai perusahaan pertambangan di Indonesia.
Para peserta dibagi ke dalam 47 kelompok. Dalam forum tersebut, setiap peserta memiliki kesempatan untuk memaparkan gagasan, pengalaman, serta inovasi yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan dan aspek keselamatan serta kesehatan kerja.
Di antara berbagai pendekatan yang dipresentasikan, program olahraga lari yang diusung KTT PT BAS menjadi salah satu gagasan yang dinilai memiliki pendekatan berbeda. Olahraga yang selama ini kerap ditempatkan sebagai aktivitas tambahan dalam kehidupan pekerja, didorong menjadi bagian dari pendekatan preventif dalam pengelolaan kesehatan pekerja tambang.
Logikanya sederhana. Pekerja yang memiliki kebugaran fisik lebih baik diharapkan memiliki kesiapan tubuh yang lebih optimal dalam menjalankan aktivitas kerja. Namun, dalam pendekatan yang dibawa PT BAS, konsistensi berolahraga juga diarahkan untuk menjadi bagian dari pemantauan kesehatan pekerja secara berkelanjutan.
Ke depan, program tersebut akan dikembangkan melalui pengamatan khusus terhadap para relawan yang mengikuti kegiatan lari secara rutin. Pengamatan itu diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai dampak konsistensi olahraga terhadap kondisi kesehatan dan kebugaran para pekerja.
Pendekatan tersebut menjadi menarik karena menempatkan kesehatan pekerja sebagai investasi jangka panjang. Bukan hanya menunggu munculnya keluhan atau gangguan kesehatan, melainkan mendorong langkah pencegahan melalui kebiasaan hidup sehat.
Bagi industri pertambangan yang memiliki lingkungan kerja dengan tantangan fisik dan tuntutan produktivitas tinggi, pendekatan seperti ini menjadi bagian penting dari penguatan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Inovasi tersebut juga menunjukkan bahwa penerapan K3 tidak selalu berhenti pada penggunaan alat pelindung diri, prosedur kerja, atau pengendalian bahaya di area tambang. K3 juga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, termasuk menjaga kebugaran tubuh.
Keberanian mengangkat olahraga lari sebagai bagian dari strategi kesehatan tambang menjadi nilai tambah tersendiri dalam pemaparan KTT PT BAS. Gagasan tersebut memperluas perspektif mengenai pengelolaan kesehatan pekerja sekaligus membuka peluang lahirnya pendekatan baru dalam penerapan K3 di sektor pertambangan.
Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi di dunia pertambangan tidak selalu lahir dari teknologi besar atau peralatan canggih. Terkadang, inovasi justru berawal dari gagasan sederhana yang dijalankan secara konsisten dan diukur dampaknya.
Melalui pendekatan tersebut, PT BAS berupaya menunjukkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja dapat berjalan beriringan dengan gaya hidup sehat. Dari sebuah kebiasaan berlari, perusahaan berharap lahir pekerja yang lebih bugar, sehat, dan siap menghadapi tantangan industri pertambangan yang terus berkembang.









